Judul tulisan ini kedengaran konyol….,
Meski banyak yang mencela, banyak pula yang membenarkannya.
Filosofi kehidupan tentu saja membantah statemen ini, karena tidak pernah ada dan pasti tidak akan pernah ditemukan pustaka yang mengajarkan teori “inilah cara jitu untuk menjadi bodoh” atau “kiat sukses menjadi hidup miskin”. Dengan demikian statemen di atas wajib dianggap sesat.
Pembahasan ini tidak akan mengarah pada persoalan teoritis ilmiah dan idealisme. Melainkan ditujukan untuk mengajak pembaca melihat satu sisi lain dari perspektif sosiologis pendidikan anak bangsa ini, di mana banyak sesungguhnya generasi kita yang potensial, genius, berotak brilian, namun tidak dipakai oleh negara ini. Bukan karena kesempatan tidak ada, akan tetapi sistem yang dibangun oleh pemerintah bangsa ini sejak lahir 65 tahun silam tidak menginginkan orang berprestasi untuk duduk di dalam pemerintahan sehingga dapat berperan banyak. Jadi, negara sama sekali tidak membutuhkan prestasi anak bangsa.
Lihatlah sistem rekrutmen Pegawai Negeri kita yang tentu saja semua orang sudah tahu.
Ujung-Ujungnya Duit (UUD) atau PERtalian DArah (PERDA) masih menjadi kata kunci dalam sistem rekrutmen kalau tak ingin memakai terminologi KKN (Korupsi, Kolusi dan Nepotisme). Belum lagi proses rekrutmen yang terkesan sangat gampang. Untuk menjadi seorang Pegawai Negeri Sipil yang akan menjadi abdi negara, abdi masyarakat bahkan menjadi eksekutif atas kekuasaan negara ini, cukup dengan mengikuti ujian tulis selama 2 atau 3 jam saja. Selepas itu, peserta ujian CPNS cukup menunggu 2 atau 3 minggu kemudian untuk mendengarkan pengumuman hasil ujian. Sangat sederhana.
Proses rekrutmen PNS jauh lebih mudah dibandingkan dengan mengikuti testing untuk menjadi seorang KASIR super market yang biasanya melalui beberapa tahapan ujian. Mulai dari ujian tulis, kesehatan, wawancara dan lain-lain. Hal ini pula yang membuka peluang besar untuk melakukan praktek-praktek rekrutmen sesuka hati kepala daerah masing-masing. Penerapan otonomi daerah juga memiliki andil bersar dalam menyuburkan praktek-praktek seperti ini.
Teringat sebuah SMS guyonan dari seseorang pada saat hampir semua Pemerintah Kabupaten/Kota di negeri ini sedang melakukan rekrutmen CPNS bulan Desember tahun lalu. Isinya lebih kurang begini : “… Kiat mudah lulus ujian CPNS : Usai shalat subuh, bacalah surah Yaasin 3x. Kalau belum yakin, tambahkan surah Arrahman 3x. Belum yakin? bacalah surah Al-Waqi’ah. Belum yakin juga? Siapkan surat tanah dan rumah…. yang ini mungkin bisa …”. Memang kurang baik isi SMS ini, karena seperti melecehkan agama. Tapi kita jangan memandang dari perspektif itu. Mari kita melihat sebuah hakikat bahwa keyakinan akan kuatnya energi materi untuk menerobos ujian CPNS begitu mengkristal di dalam hati warga masyarakat. Praktek yang terasa ada namun tidak bisa dibuktikan dengan fakta.
Inilah salah satu hal yang terlupakan atau sengaja dilupakan oleh negara yang berusia hampir 66 tahun ini.
Bagaimana masyarakat kita menyikapi keadaan ini?
Sudah menjadi sebuah kebiasaan bagi masyarakat kita apalagi masyarakat pedesaan bahwa keberhasilan seorang anak diukur dari statusnya sebagai PNS. Tidak ada gunanya pendidikan sampai S3 kalau bukan berstatus sebagai seorang PNS. Yang berani membantah statemen ini adalah orang-orang yang berpola fikir lebih maju, di mana parameter kesuksesan tidak lagi berpaku pada PNS atau tidaknya seseorang.
Nah, bagi masyarakat awam, keadaan ini adalah barang halal. Mereka sudah terbiasa dengan situasi seperti ini karena telah berakar dalam nurani mereka, bahwa untuk mendapatkan pelayanan publik dari pemerintah haruslah dengan mengeluarkan kocek, apalagi ingin menjadi seorang PNS. Penghalalan inilah yang kemudian menjadi embrio pembenaran atas keadaan karena kesalahan yang dilakukan secara terus-menerus akan dianggap menjadi sebuah kebenaran.
Penghalalan itu menetaskan konsekuensi logis yang lebih parah lagi. Praktek suap untuk lulus menjadi PNS mendorong terciptanya korupsi dan pungli. Ini pun kembali akan dianggap halal. Bahkan tidak mustahil, seseorang yang bermaksud untuk menjadi PNS tidak semata-mata berniat untuk menjadi pelayan masyarakat (abdi negara), melainkan ingin mendapatkan uang yang banyak dan menjadi kaya raya. Logika sederhana kita tidak dapat menerima secara sehat alasan tersebut. Namun apa pun alasannya, hal itu ada dan memang terjadi.
Itulah sedikit paparan tentang keadaan bangsa kita.
Apakah menurut kita bangsa ini akan bisa bangkit bila model yang diterapkan seperti paparan di atas?
Salahkah statemen pada judul tulisan ini?
Bersambung….
