Semakin ketatnya persaingan hidup dewasa ini sebagai dampak dari perubahan sosial yang semakin kompleks mendorong terciptanya translasi nilai yang bersifat multidimensional. Tidak hanya berdampak pada gaya hidup (life style) melainkan juga terjadi pergeseran nilai dalam memahami arti hidup manusia.
Banyaknya kesulitan di bidang ekonomi atau dalam bahasa umumnya sering disebut sebagai sulitnya mencari sesuap nasi, mengubah pola fikir sebagian manusia sehingga mereka menghalalkan semua cara untuk mendapatkan apa yang mereka inginkan, dan mereka terpaksa mengubur dalam-dalam ilmu pengetahuan yang telah mereka fahami dan mereka yakini sebagai sebuah kebenaran.
“Mencari yang haram saja sulit, apalagi mencari yang halal..!”
“Di zaman ini, siapa yang jujur akan terbujur”
Ungkapan-ungkapan di atas tak jarang kita temukan di tengah masyarakat kita. Ironisnya, statemen tersebut tidak hanya diucapkan oleh orang-orang awam yang miskin ilmu, melainkan juga diikuti oleh orang-orang intelek, berpendidikan dan juga berkedudukan.
Inikah pertanda dekatnya hari kiamat?
Saya kira tidak demikian, inilah orang-orang yang telah dicabut ilmunya oleh Allah SWT, karena bagi mereka pengetahuan tentang kebenaran itu sama sekali tidak berguna. Untuk itulah Allah SWT mencabutnya kembali.
Semua orang memahami bahwa mencari nafkah yang benar menurut akal sehat dan agama adalah dengan cara-cara yang halal. Semua orang juga meyakini bahwa menjadi orang jujur juga sangat penting. Persis seperti proverb Inggris honesty is the best policy (kejujuran adalah siasat yang terbaik). Kejujuran menjadi modal dasar dan mata uang yang berlaku di mana saja. Mempekerjakan orang bodoh lebih baik dari pada orang pintar namun tidak jujur. Orang bodoh gampang disulap agar siap untuk dipakai dengan cara memberikan pendidikan dan training sebelum mempekerjakannya atau memberikan pelatihan sambil bekerja (on the job training).
Untuk menjadi orang jujur dan baik sebenarnya tidak membutuhkan pendidikan tinggi. Orang buta huruf pun bisa melakukannya, karena menjadi baik dan jujur adalah masalah budi pekerti, bukan masalah pendidikan.
Persoalan tentang orang-orang yang telah dicabut ilmunya tidak berhenti sampai di situ, masih banyak kasus yang senada dengan itu dan ramai ditemukan di masyarakat. Mari kita simak beberapa kasus menarik berikut ini:
Mencermati kualitas pelayanan publik yang sangat memprihatinkan sejak zaman orde baru hingga orde reformasi yang telah berjalan lebih dari satu dasa warsa ini, kita juga bisa menemukan orang-orang yang telah dicabut ilmunya, salah satunya adalah di dalam birokrasi pemerintah kita.
“kalau bisa dipersulit, untuk apa dipermudah?”
Kalimat di atas familiar bagi orang-orang yang berkecimpung di birokrasi pemerintah, atau orang-orang yang sering berhubungan dengan bidang pelayanan publik.
Bukankah para pegawai negeri telah diberi gaji oleh negara untuk menjalankan TUPOKSI mereka, yakni memberikan pelayanan kepada masyarakat luas yang pada hakikatnya adalah majikan mereka. Tapi yang terjadi adalah banyak pegawai negeri yang tidak menganggap dirinya sebagai pamong, malah menjadikan dirinya pangreh yang harus dilayani. Semestinya mereka tidak lagi menginginkan pembayaran dari warga agar mereka melaksanakan tugasnya. Perilaku koruptif ini bisa terjadi karena ilmu mereka telah dicabut oleh Allah SWT.
Fenomena lain yang juga tidak kalah serunya adalah ketika seorang teman wanita muslimah diminta temannya yang lain untuk mengenakan jilbab untuk menutup aurat sesuai perintah di dalam ajaran agama Islam. Yang bersangkutan menolak dengan alasan belum mampu untuk mempertahankannya.
“lihat saja si A dan si B, mereka memang berjilbab tapi prilakunya lihat saja sendiri…!”
Inilah kasus aneh yang sangat menyedihkan. Pada saat agama mengajarkan untuk berlomba-lomba berbuat kebajikan, tapi wanita ini malah melihat ke bawah dan berlomba busuk seperti babal (putik buah nangka). Ilmunya sudah dicabut oleh Allah SWT.
Saya teringat isi ceramah Da’i sejuta umat KH. Zainuddin MZ. Beliau menceritakan pengalaman memberikan tausiyah di salah satu kawasan lokalisasi PSK di daerah Surabaya, di mana banyak PSK menghadiri acara tersebut dengan memakai busana muslim. Teman beliau bertanya apakah ada manfaatnya memberikan tausiyah kepada para PSK. Pak Kiyai mengatakan bahwa manfaatnya pasti ada. Paling tidak para PSK tidak menerima pesanan pelanggan selama mendengarkan tausiyah Pak Kiyai.
Nah, itulah pola fikir positif tentang kemanfaatan berbuat baik. Tidak seperti kisah di atas yang menakuti perbuatan baik, yang tentu saja karena masih memiliki niat untuk melanjutkan perbuatan buruk atau kurang baik yang sedang ditekuninya.
Banyak pasangan suami istri yang kawin sipil (beda akidah) di era pemerintahan Suharto, sebutlah Nurul Arifin dengan Mayong, Lidya Kandou dengan Jamal Mirdad, dan lain-lain. Mereka mengklaim pasangan mereka ideal dan sangat berbahagia. Sesungguhnya itulah kebohongan besar, tentu saja mereka menghadapi berbagai persoalan berkaitan dengan perbedaan akidah itu termasuk tarik-menarik soal akidah anak-anak mereka. Mereka ini adalah para selebritis, public figure yang tidak hanya dijadikan tontonan, melainkan sekaligus sebagai tuntunan bagi publik yang tidak semua di antara warga masyarakatnya memiliki filter yang mumpuni untuk membedakan mana yang patut ditiru dan mana yang tidak.
Siapa yang salah dalam persoalan ini?
Yang dicabut ilmunya bukan hanya mereka para pelaku, melainkan juga penguasa-penguasa yang melegalkan kawin sipil itu pun tentu sudah dicabut ilmunya oleh Allah SWT.
Banyak sekali keanehan dan keganjilan yang ditemui di tengah masyarakat kita berkaitan dengan prilaku nyeleneh yang dipicu berbagai aspek. Mulai dari masalah pengingkaran tentang kejujuran dan kebenaran bahkan sampai ke hal-hal irrasional. Salah satu contohnya adalah penggunaan tenaga supranatural atau lebih dikenal sebagai dukun.
Ibu rumah tangga yang sangat mengkhawatirkan kehilangan suaminya pergi ke dukun meminta agar suaminya tidak berselingkuh atau berpindah hati ke wanita lain. Pak Dukun menyambut dengan hangat, karena bagi Pak Dukun ini adalah proyek yang bisa dijadikan sumber uang secara berkesinambungan.
Aneh dan lucu, si ibu ini tidak lagi percaya diri untuk bisa mempertahankan hati suaminya dan tidak lagi percaya dengan do’a-do’anya kepada Allah SWT dan tidak lagi merasa dirinya patut untuk mendampingi suaminya. Akhirnya si ibu lebih percaya pada kemampuan Pak Dukun untuk bisa melanggengkan rumah tangganya dengan suaminya.
Begitulah cara kerja orang-orang yang katanya beragama dengan benar. Orang-orang yang mengaku percaya kepada Allah SWT, namun melawan aturan yang telah ditentukan oleh-Nya, dan masih mempercayai ada kekuatan lain yang lebih ampuh dari kekuatan Allah SWT. Patutkah kita mendapatkan pertolongan dan keberkahan hidup dari Allah.
Alangkah nikmatnya menjalani hidup dengan sabar dan tawakkal.
Allah lebih mengetahui apa yang terbaik bagi hamba-Nya. Asal saja kita tidak berhenti berusaha dengan segenap akal budi yang kita miliki dengan tetap berpegang pada aturan main yang ditentukan-Nya, lalu berdo’a dengan sepenuh hati dan yakin akan berhasil serta diakhiri dengan tawakkal. Itulah hidup tenang yang sebenarnya…
ketika ketidak benaran dilakukan secara berjamaah maka itupun dianggap suatu kebenaran. Ketika nilai kebenaran yang hakiki tak lagi memberi pencerahan maka jadilah dia menjadi budaya yan diikuti orang lain dan akhirnya lahirlah komunitas yang berbeda yang mempertahankan komitmen masing masing. Benar kata Rasul, diakhir zaman ummatku menjadi 70 kelompok tapi satu yang benar.
By: A. Rahman Gajah on September 22, 2010
at 9:18 am
betul pak Rahman,
Jadi benar kata orang bahwa korupsi itu agama baru…
Jadi pemeluknya adalah mereka-mereka yang melakukan korupsi itu.
Ajaran agama korupsi menghalalkan semua jenis tindakan seirama misalnya : mark up, penggelapan, pungli, dll.
By: amrimunthe on September 22, 2010
at 11:58 pm
sangat menarik
mendapat kamus baru
By: Meilan on September 23, 2010
at 12:15 am
terima kasih
saya menunggu anda memberikan masukan atas tulisan-tulisan saya
untuk memperbaiki kualitas tulisan di masa mendatang
By: Amri Munthe on September 23, 2010
at 10:06 am