Posted by: amrimunthe | December 2, 2008

EMPAT MUTIARA DALAM HIDUP KITA

Allah SWT sesungguhnya menjadikan manusia menjadi hamba-Nya yang paling sempurna, sebagaimana Firman Allah SWT dalam Al-Qur’an surah Attiin yang bermakna bahwa sesungguhnya Allah telah menciptakan manusia dalam sebaik-baik rupa.

Allah memberikan empat macam mutiara di dalam kehidupan setiap manusia, di mana manusia akan selalu berada dalam kemenangan bila senantiasa memegang teguh dan memelihara keempat mutiara tersebut.

Empat mutiara yang sangat berharga tersebut adalah:

1. Akal

2. Hati

3. Agama

4. Iman

Akal merupakan mutiara yang paling berharga dalam hidup setiap manusia.

Akal memiliki pertimbangan yang sangat baik untuk dapat membedakan apakah suatu perbuatan yang akan dilakukan itu baik atau buruk, pantas atau tidak pantas. Sehingga Akal menjadi pemberi fatwa yang sesungguhnya. Mematikan dan menafikan akal sendiri akan berdampak pada tidak terkendalinya suatu aksi yang dilakukan.

Sangat disayangkan, banyak manusia dengan sengaja mematikan akal sehatnya yang berarti menghilangkan mutiara terbaiknya dengan cara mengkonsumsi barang haram berupa minuman keras dan bahan-bahan psikotropika (narkoba). Setelah mematikan akalnya dengan cara tadi, maka dia akan kehilangan kendali persis seperti orang gila. Maka segala macam kejahatan dengan gampang dapat dilakukan sesuai dengan instruksi setan yang telah merasuki dirinya.

Sejalan dengan itu, manusia memiliki mutiara lain berupa hati yang mestinya digunakan sebagai mitra dari akal. Hati seharusnya dipakai untuk menganalisis sebuah input yang dipasok oleh akal. Orang sering mengistilahkan ”hati kecil” atau ”hati yang paling dalam” untuk menggambarkan sumber kejernihan hati yang hakiki. Hati kecil tidak pernah berdusta. Dia selalu akan menunjukkan jalan lurus dan kebenaran yang sesungguhnya. Namun nafsu manusia lebih menguasai diri manusia itu, sehingga hati kecil sering takhluk dan tunduk pada perintah nafsu yang telah ditunggangi oleh setan dan iblis. Dalam kasus ini, si pemilik hati sebenarnya telah menghilangkan salah satu dari mutiara hidupnya.

Agama adalah salah satu mutiara dalam kehidupan manusia. Agama menjadi jalan menuju pada kebenaran sejati. Agama menuntun hidup manusia menjadi lebih berarti. Tujuan hidup manusia selalu tidak jelas bilamana hidupnya tidak diwarnai dengan bimbingan agama. Agama mengajarkan tentang mana yang hak dan mana yang batil.

Apa pun agama yang diyakini seseorang, persoalan sesungguhnya bermuara pada keyakinan tentang keselamatan setelah kehidupan di dunia. Jadi, persoalan sebenarnya adalah problem of the life after the death (masalah kehidupan setelah kematian). Dalam zona ini, kita terpaksa harus berbicara tentang mutiara hidup yang keempat yakni iman.

Seberapa besar keyakinan anda tentang kebenaran ajaran agama yang anda anut?

Hampir 85% manusia yang ditanya mengapa dia menganut sebuah agama, menjawab karena faktor orang tua. Artinya, seseorang menganut suatu agama karena dilahirkan di tengah keluarga yang menganut agama tersebut. Keadaan ini sebenarnya tidaklah objektif. Iman haruslah tumbuh karena keyakinan tentang ketuhanan yang diajarkannya.

Mengimani Tuhan adalah faktor terpenting yang tidak boleh diintervensi oleh siapa pun. Jadi, sekali seseorang memutuskan untuk mengimani suatu agama, dia haruslah terlepas dari interdependensi pihak lain. Justru harus dengan keyakinan dirinya sendiri, dia yakin bahwa keselamatan akan ada di tangannya dengan mempedomani ajaran sebuah agama.

Islam sangat peduli dengan persoalan keyakinan sebagaimana diulas di atas. Islam mengenal ilmu Tauhid yang mengajarkan pengenalan terhadap Allah; termasuk keberadaan-Nya dan sifat-sifat dasar yang melekat pada Dzat Allah. Bagaimana mungkin seseorang akan mengimani Tuhan yang sama sekali tidak dikenalnya.

Nah, iman menjadi mutiara yang harus dijaga, dilestarikan dan ditingkatkan dari hari ke hari. Orang bijak mengatakan bahwa orang yang lebih buruk hari ini dari pada hari kemarin adalah orang merugi. Oleh sebab itu, kita jangan salah kaprah dalam menapak langkah ke depan. Yang kita kejar dalam hidup ini sesungguhnya adalah keridhaan Allah. Mencari keridhaan Allah tidak melekat hanya pada saat anda bersujud, duduk berdzikir dan pada saat anda berdoa. Melainkan, mulailah semua kegiatan dengan niat ikhlas dan lakukanlah setiap pekerjaan hanya semata-mata untuk mencari keridhaan Allah SWT. Dengan demikian, tidak akan ada waktu yang sia-sia walau sedetik pun. Bahkan seorang penarik becak yang sedang mendayungkan becaknya pun sesungguhnya sedang melakukan kegiatan ibadah kepada Allah, bilamana dia memulai niatnya untuk mencari keridhaan Allah. Tidak mungkin seseorang pergi berzinah atau berjudi untuk mencari keridhaan Allah SWT.

Semoga iman kita tumbuh dan bertumbuh, serta ridha Allah selalu kita dapatkan. Amin ya rabbal ’alamiin…!


Leave a response

Your response:

Categories