Posted by: amrimunthe | August 21, 2008

Seberapa Pentingkah Air Murni, Oksigen dan Air Aktif?

Di dalam menganalisis air minum, ada 2 hal yang sering dipersoalkan dewasa ini. Padahal sejujurnya, selama ratusan tahun masyarakat kita hanya mengerti dan memahami satu hal saja, bahwa di dalam air ada zat beracun yang dapat mengancam kesehatan tubuh. Zat itu berupa bakteri, kuman atau kotoran-kotoran binatang kecil atau mikro organisma lainnya. Sehingga nenek moyang kita selalu menganjurkan agar sebelum meminum air, kita harus terlebih dahulu merebusnya agar kandungan racunnya mati dan aman untuk diminum.

 

Teori itu sebenarnya 100% benar pada masa itu, meskipun saat ini petuah itu tetap terpelihara dan masih akan dilanjutkan ke generasi kita mendatang. Namun sekarang, ada persoalan kedua yang  telah terbukti membahayakan tubuh kita, di mana di dalam air minum kita saat ini terdapat logam yang tidak bisa hilang dengan melakukan penyaringan biasa dan melalui proses perebusan. Meskipun direbus berjam-jam kadar logamnya tidak akan hilang, malah merebus air dengan panci aluminimum justru akan  menambah kandungan logam di dalam air minum tersebut. Zat itu bisa berupa besi, aluminium, teroksida, kuprum, klorin, asbes, dll.

 

Logam yang ada di dalam air atau sering diistilahkan sebagai mineral anorganik bukanlah bagian dari air dan bila terminum dan masuk ke dalam lymphatic system, tidak bisa diserap untuk dikeluarkan oleh tubuh. Resikonya terjadi penimbunan logam di dalam berbagai organ tubuh kita.

 

Beberapa contoh timbunan logam di dalam tubuh kita, di antaranya:

1.      Timbunan logam (mineral anorganik dari air) di dalam pembuluh darah kita menyebabkan terjadinya penyumbatan darah atau darah tidak bisa melampaui jalur pembuluh darah dengan lancar, maka terasa kebas dan ngilu. Ini yang disebut asam urat.

2.      Timbunan logam di dalam ginjal berakibat tersumbatnya saringan pada ginjal membuat performa ginjal terganggu sehingga terasa sakit. Timbunan itu berakkumulasi dan mengkristal menjadi batu dan akhirnya menjadi penyakit batu ginjal dan bisa pula berpotensi gagal ginjal.

3.      Timbunan logam di dalam pankreas (empedu) menyebabkan pankreas tidak bisa memproduksi atau menghambat produksi insulin, sehingga karbohidrat tidak bisa diubah menjadi lemak, melainkan menjadi gula darah sehingga menimbulkan penyakit gula atau Diabetes Mellitus. Bukan itu saja, keadaan ini akan berpotensi untuk menderita penyakit batu empedu.

4. Timbunan logam pada mata, bisa menyebabkan kinerja mata menurun dan biasa diistilahkan sebagai katarak, dll.

 

AMANKAH AIR MINUM YANG ANDA KONSUMSI SETIAP HARI?

Untuk mengetahui tingkat kualitas air minum kita, terlebih dahulu harus dipahami istilah Total Dissolved Solid (TDS) artinya Jumlah Padatan Logam Yang Terlarut di dalam air. Kata ’larut’ harus diartikan sebagai sesuatu yang menyatu padu, sejati dengan air sehingga rupa, warna, bentuk dan bau tidak berubah, namun sesunggunya ada kandungan yang bukan bagian dari air di dalamnya. TDS diukur dengan satuan ppm (part per million) atau satu bagian mewakili sejuta.

 

Ada dua macam alat yang umum digunakan untuk menguji kualitas air minum, yaitu TDS meter dan Elektrolisa (elsa).

1.      TDS meter adalah alat sebesar spidol memiliki tiang uji yang dicelupkan ke dalam air dan memiliki layar digital. Begitu power dihidupkan dan tiang uji dicelupkan ke dalam air, maka di layar akan muncul angka digital yang menjadi indikator seberapa tinggi tingkat pencemaran air yang sedang diuji. Patokannya adalah:

·        Air murni atau air yang belum tercemar biasanya berukuran maksimum 3 ppm saja. Sedangkan Oxy hanya < 2 ppm (berarti air murni).

·        Air layak minum menurut World Health Organization (WHO) adalah maksimum 30 ppm sedangkan Departemen Kesehatan Pemerintah Canada membatasi hingga 40 ppm.

·        Tidak adanya kejelasan dan ketegasan pemerintah kita menyebabkan banyak air kemasan dan minuman pabrikan yang beredar di Indonesia saat ini tidak senada dengan kenyataan di negara lain sebagaimana diutarakan di atas. Kita tidak bisa menyalahkannya karena tidak jelas aturan ambang batas toleransi tentang TDS.

 

2.      Elektrolisa adalah alat listrik berukuran sebesar sabun mandi dan memiliki kaki empat buah (dua berbahan besi dan dua berbahan aluminium) yang digunakan untuk mengetahui bahan pencemar air (pollutant) serta potensi dampaknya bagi kesehatan kita. Siapkan dua gelas putih sama tinggi, yang satu berisi air yang ingin diuji (air kemasan, isi ulang, sumur, sungai, PAM atau apa saja) dan satu lagi diisi air pembanding (oxy). Letakkan alat di atas kedua gelas di mana setiap gelas akan memiliki kaki besi dan aluminium masing-masing satu buah. Sambungkan listrik dengan kabel yang tersedia, dan hidupkan mesinnya dengan menekan tombol power. Tunggu hingga  satu atau dua menit, kemudian matikan mesin dan cabut listriknya. Kita bisa menyaksikan bahwa air murni (oxy) tidak akan mengalami perubahan apa-apa dan tetap bening, sementara air yang tercemar akan berubah warna sesuai dengan tingkat pencemarannya. Semakin tinggi tingkat pencemarannya, semakin kotor wujud air yang ditampilkan. Pastikan apa warna pencemar air setelah diuji dengan elektrolisa dan cocokkan dengan panduan untuk mengetahui polutan dan dampaknya.

 

 

 

 


Responses

  1. air murni sekarang di Indonesia memang mulai populer dan mempunyai banyak sebutan, mulai dari air oksigen, air murni, air ro, air oxy,dsb. Namun kalo mau di telaah lebih lanjut umumnya air tersebut dihasilkan melalui proses reverse osmosis. karena memang teknologi ini paling mudah diaplikasikan dan juga biayanya relatif terjangkau.
    oh ya…sekadar menambahkan. Bila ingin mengetahui kualitas air yang lebih spesifik kita tetap harus periksa di laboratorium, karena TDS hanya merupakan salah satu parameter yang menentukan air itu layak di minum atau tidak. Untuk informasi lebih lanjut mengenai laboratorium air dapat di lihat di http://www.airmurniro.wordpress.com
    semoga bermanfaat….


Leave a response

Your response:

Categories